Landscape pendidikan madrasah di tanah air pada penghujung tahun 2025 ini tengah mengalami transformasi fundamental, bergerak dari sekadar pemenuhan administrasi menuju pemaknaan substansi yang lebih esensial. Di bawah naungan Kementerian Agama, kita menyambut babak baru sejarah pendidikan dengan terbitnya Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Regulasi ini bukan sekadar aturan administratif, melainkan sebuah manifesto filosofis yang menetapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai jiwa utama pendidikan madrasah. Momentum ini diperkuat dengan panduan teknis melalui Surat Edaran Dirjen Pendis No. 10 Tahun 2025 serta SK Dirjen Pendis No. 6077 Tahun 2025. Rangkaian kebijakan ini menjadi titik temu krusial untuk menyelaraskan pendekatan humanis dengan strategi Deep Learning (Pembelajaran Mendalam). Sinergi ini merupakan jalan emas untuk membuktikan bahwa visi Madrasah Maju, Bermutu, Mendunia bukanlah sekadar slogan di atas kertas, melainkan ikhtiar kolektif yang nyata, bermula dari transformasi paradigma di ruang-ruang kelas.

​Dalam implementasi skala nasional, Kurikulum Berbasis Cinta harus dijalankan dengan prinsip-prinsip yang kokoh agar tidak terjebak pada simbolisme semata. Sebagaimana prinsip yang ditekankan dalam sosialisasi Kemenag, pendidikan madrasah haruslah diletakkan sebagai Pendidikan Berbasis Nilai, yang menekankan pada pemahaman, internalisasi, dan upaya menghidupkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang digunakan wajib bersifat Holistik, mempertimbangkan semua aspek perkembangan murid secara utuh, meliputi fisik, kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Lebih dari itu, kunci keberhasilan kurikulum ini terletak pada keteladanan yakni para pendidik harus menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan menjadi role model nyata dalam pengimplementasian nilai-nilai cinta. Tak kalah penting, penerapan Pendekatan Komunitas dengan melibatkan orang tua dan masyarakat, serta fokus pada Pengembangan Karakter seperti empati dan toleransi, menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kualitas madrasah yang bermutu.

Baca juga :  Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jambi membuat dan memanen eco-Enzym di Desa Kebon IX

​Secara substansial, ruh pendidikan ini diejawantahkan melalui lima pilar utama atau yang dikenal sebagai “Panca Cinta’. Pilar fondasinya adalah Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya, di mana seluruh proses belajar diniatkan sebagai ibadah untuk mempertebal iman. Spiritualitas ini memancar ke pilar kedua, Cinta Kepada Diri Sendiri dan Sesama, yang menumbuhkan kesehatan mental dan kepedulian sosial. Energi cinta ini lantas diarahkan pada pilar ketiga, Cinta Kepada Ilmu Pengetahuan; aspek ini selaras dengan semangat Deep Learning, di mana siswa memandang ilmu sebagai cahaya yang mencerahkan. Selanjutnya, pilar keempat adalah Cinta Kepada Lingkungan, agar siswa memiliki tanggung jawab ekologis. Akhirnya, semua nilai ini bermuara pada pilar kelima, Cinta Kepada Bangsa dan Negara, untuk mencetak generasi nasionalis. Tujuannya jelas: membentuk generasi muda yang berakhlak mulia, berkarakter kuat, dan memiliki semangat cinta kasih terhadap segala sesuatu.

​Agar gagasan ini operasional dan terukur dalam implementasi, kerangka kerjanya perlu diterjemahkan melalui empat dimensi struktural kurikulum yaitu sebagai Ide (visi nilai), Rencana Tertulis (dokumen silabus), Proses Pembelajaran (interaksi humanis), dan Hasil (dampak perilaku). Strategi pembelajaran yang diterapkan haruslah partisipatif dan mendalam. Integrasi nilai Panca Cinta disisipkan secara halus (hidden curriculum) dalam setiap mata pelajaran, bukan sebagai beban tambahan. Di sinilah peran teknologi dioptimalkan sebagai media kolaborasi untuk menyebarkan narasi positif dan memperluas dampak kebaikan lintas batas.

Baca juga :  Tamparan di SMA Cimarga: Antara Kedisiplin, Kekerasan, dan Wibawa Pendidikan

​Sebagai penutup, transformasi pendidikan madrasah saat ini adalah tentang upaya mengembalikan “jiwa” ke dalam tubuh pendidikan nasional. Dengan memadukan ketajaman intelektual melalui Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan kehalusan budi pekerti melalui Kurikulum Berbasis Cinta, kita sedang mempersiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga “hidup” hatinya. Inilah langkah strategis untuk menyongsong masa depan peradaban yang gemilang.